Usaha

  1. Peluang Usaha Paruh Waktu

    www.vemmaindo2u.com/syan1
    Peluang usaha online paruh waktu
    Dapat income dari internet.

Minggu, 24 Februari 2008

Kontemporer Minimalis Nan Memikat

Kontemporer Minimalis Nan Memikat
SEPERTI sebuah harmoni dalam kehidupan, Ross Carey melantunkan nada-nada indah melalui sentuhan jemarinya. Pianis asal Selandia Baru itu menggelar pertunjukan resital pianonya di Teater Utan Kayu, Jakarta, pada 20 Februari lalu.

Ross mengusung sepuluh karya dalam pertunjukan berdurasi 90 menit itu. Ross menyajikan komposisi yang sangat menyentuh. Dari cerita mengenai kehidupan,cinta,hingga kesendirian di paparkan secara gamblang. Pianis yang mulai belajar piano sejak usia tujuh tahun itu menggeber karya-karya ternama,seperti : Melodrama(Kate Moore,Australia,2007), Love Songs(Garreth Farr,Selandia Baru,2001), Meditaciones (Alfredo Votta Jr, Brazil, 1999), Per Piano Forte (Luca Vanneschi, Italia, 1996), dan Idiot Sorrow (James Rolfe, Kanada,1990).

Tidak ketinggalan pula dua karya dari musisi Indonesia, Svara (Slamet Abdul Sjukur, 1979) dan The River (Michael Asmara, 1986).Menurutnya, set list tersebut merupakan komposisi favorit yang kebetulan diberikan kepadanya. Ross pun tidak membuang kesempatan itu dan memainkannya sebaik mungkin. “ Kebanyakan merupakan komposisi yang diberikan kepada saya,dan saya sangat menyukainya,”tutur Ross. Ross sendiri sebenarnya sudah banyak menciptakan karya. Namun, komposisi tersebut menurutnya kurang tepat untuk dibawakan pada pertunjukan kali ini. Sebab untuk pertunjukan di Jakarta ini, Ross mengusung tema The New Minimalism.

Itu sebabnya dia memilih set list yang dianggapnya pas.“Saya menampilkan komposisi minimalis dari sejumlah komposer dunia,”ungkapnya. Sebagai pembuka,Ross memilih karya komposer Jepang Ayuo, When Illusions looks like Reality, then reality becomes just a fantasy. Ross mengajak penonton memasuki dunia imajinernya yang menuangkan keindahan dalam sebuah labirin panjang.

Baik secara penjiwaan, dinamika lagu, atau pun sentuhan nada-nada manis yang terdapat pada komposisi tersebut, kesan manis berlanjut saat ia memainkan komposisi Love Song, karya Gareth Farr.Ross membawakannya dengan penuh perasaan. Seperti hati yang tengah dilanda melodrama cinta,Ross mengayunkan nada demi nada dengan lembut. Permainan Ross memang cenderung mengolah perasaan. Namun, bukan berarti dia lebih suka mengekspos cerita cinta yang berlebihan.

Dari set list komposisi yang ada, lagu cinta hanyalah bagian kecil dari cerita yang diusungnya. Ross lebih banyak mengutarakan kisah-kisah kehidupan serta suasananya.Seperti komposisi Meditaciones,karya Alfredo Votta Jr, yang disuguhkan dengan penghayatan tinggi. Penonton dibawa ke dalam dunia perenungan yang sangat dalam.Permainannya terasa lambat dan terkadang datar. Namun,di sisi lain terasa begitu ekspresif.

Secara pribadi,Ross mengaku senang dengan komposisi kontemporer yang terasa berat. Namun saat konser, dia sangat berkompromi dengan penonton. Pasalnya, tak semua penonton bisa menyukai komposisi berat yang dimainkannya. Saat tampil di Yogyakarta beberapa waktu lalu, Ross sempat merasakan kesulitan yang dirasakan penonton. Penonton di Yogyakarta ternyata sulit memahami sejumlah komposisi berat yang dimainkannya. “Makanya saya lebih menampilkan komposisi yang familier di kuping orang banyak,”ungkapnya.

Perjalanan musik Ross memang sudah cukup panjang. Sejak 1994, Ross mulai berkarier sebagai pianis profesional. Dia juga menjadi komponis di Selandia Baru, Australia,dan Kanada.Pada 2000,ia menjadi Mozart Fellow di Otago University,Dunedin serta Selandia Baru. Pada 2005, Ross juga sempat menjadi komponis tamu bagi International Society for Contemporary Music (ISCM) di Visby International Centre for Composer,Swedia.Selain instrumen piano, Ross juga tertarik dengan berbagai instrumen tradisional.Tidak heran bila dia juga mempelajari seni musik tradisional Jawa di Yogyakarta.

“Banyak pengalaman yang saya dapat dari perjalanan atau pun konser di berbagai tempat.Tapi yang saya suka adalah bagaimana proses belajar yang saya dapat dari perjalanan tersebut,”tuturnya. Ross memang baru pertama kali menggelar konser di Jakarta. Sebelumnya, Ross sudah beberapa kali tampil di Indonesia,namun itu hanya di Yogyakarta dan Medan.Saat ini,dia tengah mendalami musik klasik Hindustani,dengan perhatian utama pada instrumen harmonium. (juni triyanto)

Tidak ada komentar: